Mencari Alloh dengan memahami Bismillaahir rohmaanir rohiimi

Banyak orang yang menganggap kepercayaannya itu sebagai
satu-satunya yang benar dan cenderung menyalahkan kepercayaan orang lain. Orang
seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan
yang sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang
lain yang dianggapnya salah, hal ini oleh Ibn al-’Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai manusia
1. “Tuhan yang disembah sesuai dengan kepercayaan” (ilah al-mu’taqad),
2. “Tuhan yang dipercayai untuk disembah atau diibadahi”(al-ilah al-mu’taqad),
3. “Tuhan dalam penyembahan atau peribadahan” (al-ilah fii al-i’tiqad),
4. “Kebenaran Tuhan yang dipercaya” (al-haqq al-i’tiqadi),
5. “Kebenaran Tuhan yang ada dalam kepercayaan” (al-haqq al-ladzi fii al-mu’taqad), dan
6. “ Kebenaran Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan” (al-haqq al-makhluq fi al-i’tiqad).

Kata i’tiqad data mu’taqad, yang dalam tulisan ini diterjemahkan dengan
“kepercayaan”, berasal dari akar ‘-q-d, yang berarti merajut, membuhul, mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang, mengumpulkan, menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan, mengerutkan; mengarahkan, memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul; mengadakan pertemuan, mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat
perjanjian, mengikat kontrak.
Kata i’tiqad sendiri, secara literal (harfiah) atau figuratif (majazi), berarti menjadi terikat atau
tersusun dengan kuat. Maka i’tiqad, “kepercayaan”, adalah suatu “ikatan” yang diikat dengan kuat dalam kalbu atau pikiran, sebuah keyakinan bahwa sesuatu adalah benar. Bagi Ibn al-’Arabi, “kepercayaan” adalah sebuah (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation) Wujud Yang Tak
Terbatas, Wujud Absolut (al-wujud al-muthlaq), yang dilakukan oleh dan berlangsung dalam subyek manusiawi.

Kepercayaan atau iman seorang hamba kepada Tuhannya ditentukan dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu tergantung kepada
1. “kesiapan partikular” (al-isti’dad al-juz’i) masing-masing individu hamba
2. “kesiapan universal” (al-isti’dad al-kulli) kesiapan seluruh aspek yang dapat digolongkan lagi :
a. “kesiapan azali” (al-isti’dad al-azali) yang telah ada sejak azali
b. “entitas-entitas permanen” (al-a’yan al-tsabitah), yang merupakan bentuk penampakan diri (tajalli) al-Haqq.

Tuhan menampakkan kuasa-Nya kepada hamba-Nya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang akhirnya “diikat” atau “dibatasi” oleh dan dalam kepercayaannya sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan yang
diketahui oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya. Dapat pula dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identik dengan kepercayaannya

Comments on: "Kepercayaan dan Teori-teorinya (sumbangan dari Kang Yus – Tim Garuda Biru)" (1)

  1. iyep sutisna said:

    Asalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuuh..
    “kalayan nyebat Jenengan Dzat Alloh Ta’ala anu maha luhur jenengannana..’
    ..Mohon Idzin nyimak ka Kasepuhan…
    ..sangat bermanfaat sekali..mugia di mampukan untuk mengamalkannya…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: