Kepercayaan dan Teori-teorinya (sumbangan dari Kang Yus – Tim Garuda Biru)

Banyak orang yang menganggap kepercayaannya itu sebagai
satu-satunya yang benar dan cenderung menyalahkan kepercayaan orang lain. Orang
seperti itu memandang bahwa Tuhan yang dipercayainya itu adalah Tuhan
yang sebenarnya, yang berbeda dengan Tuhan yang dipercayai oleh orang
lain yang dianggapnya salah, hal ini oleh Ibn al-’Arabi menyebut Tuhan yang dipercayai manusia
1. “Tuhan yang disembah sesuai dengan kepercayaan” (ilah al-mu’taqad),
2. “Tuhan yang dipercayai untuk disembah atau diibadahi”(al-ilah al-mu’taqad),
3. “Tuhan dalam penyembahan atau peribadahan” (al-ilah fii al-i’tiqad),
4. “Kebenaran Tuhan yang dipercaya” (al-haqq al-i’tiqadi),
5. “Kebenaran Tuhan yang ada dalam kepercayaan” (al-haqq al-ladzi fii al-mu’taqad), dan
6. “ Kebenaran Tuhan yang diciptakan dalam kepercayaan” (al-haqq al-makhluq fi al-i’tiqad).

Kata i’tiqad data mu’taqad, yang dalam tulisan ini diterjemahkan dengan
“kepercayaan”, berasal dari akar ‘-q-d, yang berarti merajut, membuhul, mengikat; mengikatkan dengan sebuah buhul; memasang, mengumpulkan, menggabungkan, mengunci; mengecilkan, menyempitkan, mengerutkan; mengarahkan, memusatkan; melengkungkan, melekukkan; bertemu, berkumpul; mengadakan pertemuan, mengadakan rapat, mengumpulkan; membuat
perjanjian, mengikat kontrak.
Kata i’tiqad sendiri, secara literal (harfiah) atau figuratif (majazi), berarti menjadi terikat atau
tersusun dengan kuat. Maka i’tiqad, “kepercayaan”, adalah suatu “ikatan” yang diikat dengan kuat dalam kalbu atau pikiran, sebuah keyakinan bahwa sesuatu adalah benar. Bagi Ibn al-’Arabi, “kepercayaan” adalah sebuah (peng)ikatan (binding) dan (pem)batasan (delimitation) Wujud Yang Tak
Terbatas, Wujud Absolut (al-wujud al-muthlaq), yang dilakukan oleh dan berlangsung dalam subyek manusiawi.

Kepercayaan atau iman seorang hamba kepada Tuhannya ditentukan dan diwarnai oleh kapasitas pengetahuan sang hamba. Kapasitas pengetahuan itu tergantung kepada
1. “kesiapan partikular” (al-isti’dad al-juz’i) masing-masing individu hamba
2. “kesiapan universal” (al-isti’dad al-kulli) kesiapan seluruh aspek yang dapat digolongkan lagi :
a. “kesiapan azali” (al-isti’dad al-azali) yang telah ada sejak azali
b. “entitas-entitas permanen” (al-a’yan al-tsabitah), yang merupakan bentuk penampakan diri (tajalli) al-Haqq.

Tuhan menampakkan kuasa-Nya kepada hamba-Nya sesuai dengan kesiapan sang hamba untuk mencapai pengetahuan tentang Tuhan yang akhirnya “diikat” atau “dibatasi” oleh dan dalam kepercayaannya sesuai dengan pengetahuan yang dicapainya. Dengan demikian, Tuhan yang
diketahui oleh sang hamba adalah identik dengan Tuhan dalam kepercayaannya. Dapat pula dikatakan bahwa Tuhan yang diketahuinya adalah identik dengan kepercayaannya

Ditulis dalam 5584. Leave a Comment »

Tinggalkan Balasan